Titik14.com | PONTIANAK — Bagaimana jika sebuah dosa yang dilakukan generasi terdahulu justru harus ditanggung oleh keturunannya?
Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, yang membawa kisah tentang perjanjian gelap, kerasukan, ritual supranatural dan perjuangan melawan kekuatan kegelapan.
Namun, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah bukan semata-mata tentang bagaimana manusia menghadapi teror. Di balik cerita horornya, film ini membawa pesan tentang pilihan, dosa, iman, pertobatan dan kesetiaan Tuhan.
Pesan tersebut mengemuka ketika roadshow dan talkshow Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menyambangi Pontianak, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Universitas Santo Agustinus Hippo Pontianak itu kemudian dilanjutkan dengan meet and greet di Gaia Bumi Raya City.
Sejumlah pemeran dan kru film hadir menyapa masyarakat Pontianak. Di antaranya Feby Febiola, Sisca Saras dan Muda Keysha Angelica.
Feby Febiola memerankan Linda, Sisca Saras sebagai Suster Aloysia, sedangkan Muda Keysha Angelica berperan sebagai Nia.
Turut hadir Pastor Johannes Robini Marianto, OP atau Romo Robini, sosok yang kisah dan pengalamannya menjadi salah satu sumber inspirasi bagi film tersebut.
Ketika Dosa Leluhur Menjadi Teror
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, yang juga dikenal sebagai Kuasa Gelap 2, mengisahkan sebuah keluarga yang harus menghadapi konsekuensi dari perjanjian gelap yang dilakukan leluhur mereka.
Cerita berlatar di sebuah kota terpencil di Jawa Timur. Sebuah ritual kuno yang gagal kemudian membuka jalan bagi munculnya teror supranatural.
Salah satu anggota keluarga mengalami kerasukan Rephaim, entitas kegelapan kuno yang digambarkan memiliki kekuatan besar.
Rephaim berkaitan dengan perjanjian darah yang dilakukan salah satu anggota keluarga pada masa lalu demi mendapatkan keuntungan materi.
Perjanjian tersebut ternyata tidak berhenti pada generasi yang membuatnya. Konsekuensinya diwariskan kepada keturunan berikutnya. Mereka yang tidak pernah terlibat dalam perjanjian tersebut justru harus berhadapan dengan dampak dari keputusan leluhur mereka.
Dalam situasi semakin mencekam, seorang pastor eksorsis dipanggil untuk menghadapi kasus kerasukan yang semakin sulit dikendalikan.
Persoalan kemudian berkembang menjadi ancaman yang lebih besar. Pertarungan bukan lagi sekadar upaya menyelamatkan satu jiwa, tetapi juga menghadapi kekuatan yang berpotensi membahayakan banyak orang.
Pastor Robini: Jangan Sampai Manusia Kehilangan Tuhan
Di balik adegan kerasukan dan teror supranatural, Pastor Robini yang juga merupakan Pastor eksorsis melihat ada pesan yang lebih dalam untuk disampaikan kepada penonton.
Menurutnya, manusia harus tetap menjaga hubungan dengan Tuhan, termasuk ketika berada dalam situasi sulit, menghadapi godaan ataupun pernah jatuh dalam dosa.
Kesalahan masa lalu, menurut pesan yang dibawa film, bukan berarti tidak ada jalan untuk kembali.
“Meskipun manusia jatuh dalam dosa atau sempat meninggalkan-Nya, kasih dan kesetiaan Tuhan tidak pernah luntur bagi mereka yang mau kembali,” ujar Pastor Robini.
Pesan tersebut menjadi salah satu sisi menarik dari Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.
Film ini tidak hanya membangun ketegangan melalui adegan horor, tetapi juga menghadirkan konflik batin manusia ketika harus berhadapan dengan godaan, keputusan dan konsekuensi.
Praktik pesugihan dan perjanjian darah menjadi bagian dari konflik cerita. Di tengah ancaman tersebut, doa, keteguhan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan menjadi bagian penting dari perjalanan para tokohnya.
Feby Febiola: Bukan Sekadar Peran
Bagi Feby Febiola, terlibat dalam film ini juga menjadi pengalaman tersendiri dalam perjalanan pribadinya sebagai pemeran.
Tema yang berkaitan dengan eksorsisme dan kekuatan gelap membuat proses produksi film memiliki pengalaman tersendiri, terutama dalam melihat kembali makna iman dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan.
“Dengan terlibatnya saya dalam proses pembuatan film ini tentu memberikan pengalaman iman dan kepercayaan akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan saya,” ungkap Feby Febiola.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman para pemain selama produksi tidak hanya berkaitan dengan tuntutan akting, tetapi juga dengan tema spiritual yang menjadi bagian penting dalam film.
Pontianak Menjadi Bagian Perjalanan Menuju Bioskop
Roadshow di Pontianak menjadi bagian dari rangkaian promosi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah sebelum film tersebut ditayangkan secara nasional.
Pertemuan dengan masyarakat juga menjadi kesempatan bagi para pemain untuk berbagi cerita mengenai karakter, proses produksi dan pengalaman mereka selama terlibat dalam film.
Setelah roadshow di Pontianak, film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Bagi penonton, film ini menawarkan ketegangan melalui kisah horor sekaligus membuka ruang untuk merenungkan kembali tentang dosa, pilihan hidup, pertobatan, iman dan kesetiaan Tuhan.
Sebab, di balik teror yang paling menakutkan, terkadang persoalan terbesar bukan hanya tentang kekuatan gelap. Melainkan tentang pilihan manusia ketika berhadapan dengan godaan.












