Titik14.com | PONTIANAK – Sebuah lambang yang kini begitu akrab di mata warga ternyata menyimpan cerita panjang tentang kerja keras, gagasan, dan waktu yang terbatas.
Lambang Kota Pontianak terpampang di kantor-kantor pemerintahan, dokumen resmi, hingga berbagai ruang publik. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya dipandang sebagai gambar yang menjadi identitas daerah.
Namun, di balik simbol itu tersimpan kisah sembilan putra terbaik Pontianak yang pernah bekerja dalam waktu yang sangat singkat untuk melahirkan sebuah maha karya berupa lambang bagi kota yang berada di garis khatulistiwa.
Kisah itu bermula ketika Kota Pontianak memasuki penghujung dekade 1950-an. Saat itu, kebutuhan terhadap sebuah identitas resmi daerah mulai dirasakan penting untuk menggambarkan sejarah, budaya, karakter, sekaligus cita-cita masyarakat Pontianak.
Sebelum terbentuknya DPR Daerah Swapraja Tingkat I Kalimantan Barat pada 1957, Kota Pontianak lebih dahulu memiliki DPRD Peralihan Tingkat II Kotapraja Pontianak yang dibentuk pada 16 September 1956.
Ketika itu, Radja Mohamad Siddiq menjabat Ketua DPRD Peralihan, didampingi Djafar Idris sebagai wakil ketua. Keduanya berasal dari Fraksi Masyumi. Sementara jabatan Wali Kota Pontianak dipercayakan kepada A. Moeis Amin.
Memasuki 1959, gagasan untuk memiliki lambang resmi kota mulai diwujudkan. Melalui Surat Keputusan Nomor 5/Kpts/DPRD/1959 tertanggal 17 Februari 1959, DPRD Kotapraja Pontianak membentuk Panitia Lambang Kotapraja Pontianak.
Panitia tersebut tidak diisi sembarang orang. Mohamad Arief Satok dipercaya sebagai ketua, dengan Ronald Harun Rasjid sebagai wakil ketua. Keduanya didampingi Imlhas Dyzs dan Abang Achmad Noor sebagai sekretaris. Sementara anggota panitia lainnya adalah Sjarief Osman Alkadrie, Mohamad Noor atau Guru Nong, Munzirin AS, Abdurahman On, dan M. Saleh H. Thalib.
Sembilan orang inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah lahirnya lambang Kota Pontianak. Mereka harus merumuskan sebuah lambang yang bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga mampu menyampaikan identitas kota, sejarahnya, kebudayaannya, karakter masyarakatnya, sekaligus cita-cita yang ingin dibangun.
Yang membuat pekerjaan itu semakin menantang adalah, seluruh rancangan harus diselesaikan dalam waktu hanya satu bulan. Di tengah keterbatasan waktu tersebut, mereka akhirnya berhasil menuntaskan pekerjaan.
Rancangan lambang kemudian dipaparkan oleh Abang Achmad Noor dalam Sidang Pleno DPRD Kotapraja Pontianak pada April 1960.
Beberapa waktu kemudian, tepatnya 4 Juli 1960, DPRD Kotapraja Pontianak mengeluarkan Keputusan Nomor 003/Kpts/DPRD/1960. Keputusan itu menjadi bentuk penghargaan atas kerja sembilan orang yang telah menyumbangkan gagasan dan tenaga untuk menghadirkan identitas resmi bagi Kota Pontianak.
Kesembilan anggota panitia perancang lambang tersebut dianugerahi status Warga Kota Terhormat (WKT). Dalam keputusan yang ditandatangani Ketua DPRD Radja Mohamad Siddiq, disampaikan penghargaan dan terima kasih atas hasil karya yang telah melahirkan simbol resmi daerah.
Waktu kemudian bergerak jauh meninggalkan 1959. Kota Pontianak berubah. Generasi berganti. Gedung-gedung tumbuh, jalan-jalan berkembang, dan wajah kota terus mengalami perubahan. Namun, lambang yang lahir dari tangan sembilan orang itu tetap menjadi bagian dari identitas Kota Pontianak.
Kini, seluruh anggota Panitia Lambang Kotapraja Pontianak tersebut telah wafat. Nama mereka mungkin tidak selalu disebut ketika lambang Kota Pontianak dipasang dalam sebuah acara atau tercetak di sebuah dokumen resmi. Tetapi jejak pemikiran mereka masih ada. Ia hadir dalam sebuah simbol yang telah melewati puluhan tahun perjalanan kota.
Setiap kali lambang Kota Pontianak terlihat, sesungguhnya di sana bukan hanya terdapat gambar dan tanda-tanda yang mewakili sebuah daerah. Ada cerita tentang sembilan orang yang pernah bekerja dalam keterbatasan waktu. Ada gagasan yang mereka susun untuk menggambarkan jati diri sebuah kota. Dan ada warisan yang ternyata mampu bertahan jauh lebih lama daripada usia para pembuatnya.
Mereka kini tinggal nama dan jejak dalam sejarah. Namun lambang yang mereka rancang tetap berbicara tentang Pontianak, tentang masa lalu, dan tentang sebuah karya yang berhasil melampaui zamannya.
Artikel ini diadaptasi dari catatan sejarawan dan budayawan Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman.












