Titik14.com | KETAPANG – Sekitar 500 warga berkumpul di Manis Mata, Jumat (31/07/2026). Mereka datang bukan sekadar menyaksikan pagelaran seni, tetapi menengok kembali jejak sejarah yang membentuk daerah mereka.
Suasana itu terasa dalam rangkaian Pagelaran Seni Budaya Melayu (PSBM) I Tahun 2026 yang berlangsung di Desa Manis Mata dan Desa Ratu Elok, Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang.
Di antara kerumunan warga, rombongan Bupati Ketapang Alexander Wilyo bersama jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, serta unsur Forkopimcam mengikuti satu agenda yang memiliki makna tersendiri: ziarah ke Makam Ratu Elok.
Nama Ratu Elok bukan sekadar nama sebuah desa. Sosok tersebut dikenal masyarakat sebagai salah satu tokoh pendiri Kecamatan Manis Mata.
Langkah kaki rombongan menuju kompleks makam seakan membawa mereka kembali ke masa lalu. Di tempat itu, kisah tentang para pendahulu yang membuka dan membangun kawasan Manis Mata kembali dikenang.
Bagi masyarakat, mengenang sejarah bukan hanya soal melihat makam atau mendengar cerita dari generasi terdahulu. Ada pesan yang ingin diwariskan kepada anak-anak muda.
“Kami ingin generasi muda mengetahui asal-usul daerahnya. Budaya bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga menghargai sejarah dan jasa para pendiri,” ujar salah seorang tokoh masyarakat yang hadir.
Namun perjalanan rombongan hari itu tidak hanya berhenti pada jejak sejarah.
Sebelum berziarah, Bupati Alexander Wilyo bersama rombongan terlebih dahulu meninjau progres pembangunan Jembatan Garuda yang menghubungkan Desa Ratu Elok dengan Dusun Amor, Desa Manis Mata.
Jembatan tersebut diharapkan menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat. Di satu sisi pemerintah membangun konektivitas, di sisi lain masyarakat berusaha mempertahankan identitas yang telah diwariskan para pendahulu.
Dari lokasi pembangunan jembatan, suasana kemudian bergeser ke Rumah Adat Melayu Kecamatan Manis Mata.
Di bawah atap rumah adat, warga dari berbagai lapisan duduk bersama dalam suasana makan beradat dan silaturahmi. Tidak ada sekat yang membedakan. Yang terasa justru keakraban dan kebersamaan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong pembangunan di Manis Mata.
Sejumlah pekerjaan menjadi perhatian, mulai dari penyelesaian Jembatan Garuda, pembangunan akses menuju UPTD Puskesmas Manis Mata, hingga penataan kawasan Makam Ratu Elok.
Alexander juga berharap Pagelaran Seni Budaya Melayu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia mendorong agar PSBM dapat menjadi agenda tahunan dan memperoleh dukungan berkelanjutan melalui APBD Kabupaten Ketapang.
Di tengah kegiatan budaya yang berlangsung, aparat keamanan ikut memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib. Personel Polsek Manis Mata, Koramil, dan Satpol PP hadir mengawal kegiatan masyarakat.
Hari itu, Manis Mata seolah mempertemukan dua wajah pembangunan.
Ada jembatan yang sedang dibangun untuk menghubungkan wilayah dan membuka akses masyarakat. Ada pula makam tua yang mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak lahir begitu saja.
Di antara keduanya, masyarakat menjaga satu hal yang sama: ingatan tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Pagelaran Seni Budaya Melayu akhirnya bukan sekadar tentang tarian, adat, dan pertunjukan seni. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu dengan masa depan, merawat sejarah, mempererat kebersamaan, sekaligus memastikan warisan Melayu tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.












