Titik14.com | KUBU RAYA – Pagi yang seharusnya disambut dengan langit biru di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, justru berubah menjadi hamparan kelabu. Matahari tampak redup di balik kabut asap yang menggantung pekat, sementara aroma sisa kebakaran memenuhi udara. Setiap tarikan napas terasa lebih berat, seolah mengingatkan bahwa api yang membakar lahan belum benar-benar padam.
Hari demi hari, warga hidup dalam bayang-bayang kecemasan. Anak-anak mulai dibatasi bermain di luar rumah, para orang tua khawatir kesehatan keluarga mereka terganggu, sementara lansia dan penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi buruknya kualitas udara. Bahkan, hujan abu dilaporkan telah mencapai wilayah Kota Pontianak, menjadi pertanda bahwa dampak kebakaran tidak lagi mengenal batas wilayah.
Di jalan-jalan, jarak pandang semakin terbatas. Kabut asap menyelimuti setiap sudut, meningkatkan risiko kecelakaan dan mengganggu aktivitas masyarakat. Bagi warga, ini bukan sekadar gangguan musiman, melainkan ancaman nyata yang perlahan menggerus rasa aman dan kualitas hidup mereka.
Ironisnya, di tengah penderitaan ribuan warga, kebakaran lahan diduga masih dipicu oleh praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Demi kepentingan segelintir orang, masyarakat luas harus menanggung akibatnya. Udara bersih yang seharusnya menjadi hak setiap warga berubah menjadi kemewahan yang sulit dinikmati.
Harapan kini tertuju kepada aparat penegak hukum. Warga mendesak agar pelaku pembakaran lahan diproses secara tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Penegakan hukum yang konsisten diyakini bukan hanya memberikan efek jera, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memutus mata rantai bencana kabut asap yang terus berulang setiap musim kemarau.
Sementara itu, di lapangan, perjuangan melawan api terus berlangsung. Personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan para relawan tanpa lelah berjibaku memadamkan titik-titik api. Namun, cuaca yang panas, lahan gambut yang mudah terbakar, dan embusan angin kencang membuat upaya pemadaman menjadi pekerjaan yang tidak mudah.
Karhutla bukan sekadar cerita tentang hutan yang hangus. Di balik kobaran api, ada anak-anak yang kehilangan ruang bermain, ada orang tua yang cemas setiap kali buah hati mereka batuk, ada pekerja yang harus beraktivitas di tengah udara tercemar, dan ada harapan masyarakat yang perlahan ikut memudar bersama kepulan asap.
Kini, warga Desa Limbung hanya menanti satu hal yang sederhana: langit kembali biru dan udara kembali bersih. Namun, lebih dari itu, mereka menagih nurani siapa pun yang masih tega membakar lahan. Sebab setiap kepulan asap yang membumbung ke langit bukan hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga membakar harapan ribuan warga untuk hidup sehat, bernapas lega, dan menikmati lingkungan yang layak bagi generasi yang akan datang.








