KesehatanPendidikanTITIK14 PANTAU

Ketika Langit Pontianak Mengabu: Sekolah Diliburkan, Anak-anak Belajar dari Rumah

×

Ketika Langit Pontianak Mengabu: Sekolah Diliburkan, Anak-anak Belajar dari Rumah

Sebarkan artikel ini

Titik14.com | PONTIANAK — Pagi di Pontianak tidak selalu datang dengan langit yang terang. Di tengah aktivitas warga yang mulai bergerak, kabut asap justru menggantung di udara. Jarak pandang terasa terbatas, sementara aroma asap perlahan memasuki ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Kondisi itu membuat Pemerintah Kota Pontianak mengambil langkah untuk melindungi kelompok yang paling rentan: anak-anak. Pembelajaran tatap muka bagi siswa TK, PAUD, SD, dan SMP di bawah Pemerintah Kota Pontianak untuk sementara dihentikan. Kegiatan belajar mengajar dialihkan secara daring hingga kondisi kualitas udara membaik.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Kualitas udara di sejumlah wilayah Pontianak sempat berada pada kategori tidak sehat akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, hasil pemantauan alat pengukur kualitas udara di Kecamatan Pontianak Tenggara menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, terutama pada malam hingga dini hari.

“Kabut asap sudah menyelimuti Kota Pontianak,” kata Edi.

Konsentrasi partikel udara pada periode tersebut bahkan dilaporkan berada di atas 200 mikrogram per meter kubik sebelum berangsur turun ke kategori sedang sekitar pukul 08.00 WIB.

Fenomena itu terjadi karena partikel asap cenderung lebih berat dan berada dekat permukaan tanah pada malam hingga pagi hari. Akibatnya, kualitas udara pada malam hingga subuh dapat memburuk secara signifikan.

Sekolah Berhenti Sejenak, Belajar Tetap Berjalan

Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kemudian menerbitkan surat edaran agar siswa tidak mengikuti pembelajaran tatap muka. Namun, sekolah bukan berarti benar-benar berhenti.

Ruang kelas berpindah ke rumah. Guru dan siswa tetap terhubung melalui pembelajaran daring. Pemerintah Kota Pontianak juga belum menetapkan batas waktu pasti penghentian pembelajaran tatap muka. Kebijakan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara.

“Libur sekolah kita lakukan sambil menunggu perkembangan kondisi kualitas udara membaik. Kalau masih berada dalam kategori sedang, kita akan normalkan kembali kegiatan pembelajaran,” ujar Edi.

Di balik keputusan tersebut terdapat satu pertimbangan utama yaitu keselamatan anak-anak. Sebab, udara yang buruk tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga membawa risiko terhadap kesehatan, khususnya bagi anak-anak yang sensitif terhadap paparan asap.

Asap dan Ancaman yang Tak Terlihat

Kabut asap berbeda dengan hujan yang dapat dilihat sebagai tetesan air atau angin yang terasa menerpa tubuh. Asap datang sebagai sesuatu yang samar. Namun, partikelnya dapat masuk ke saluran pernapasan.

Pemerintah Kota Pontianak meminta masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok yang rentan terhadap paparan asap, mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Penggunaan masker juga dianjurkan apabila masyarakat harus beraktivitas di luar rumah. Warga yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas juga diminta menyiapkan oksigen sebagai langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan kasus ISPA. Dan tanda-tandanya mulai terlihat.

Edi mengungkapkan, berdasarkan laporan sementara Dinas Kesehatan, terjadi kenaikan kasus ISPA sekitar lima persen. Angka tersebut masih akan dievaluasi untuk melihat seberapa besar pengaruh kondisi udara terhadap kesehatan masyarakat.

Lima Persen yang Menjadi Peringatan

Kenaikan lima persen mungkin terlihat sebagai angka kecil di atas kertas. Namun di balik angka itu ada masyarakat yang harus berobat, anak-anak yang harus mengurangi aktivitas, orang tua yang mulai khawatir, dan fasilitas kesehatan yang harus bersiap menghadapi kemungkinan peningkatan pasien.

Pemerintah Kota Pontianak menyatakan kondisi tersebut masih akan dipantau. Evaluasi diperlukan agar penanganan tidak hanya berfokus pada kabut asap yang terlihat, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Sementara itu, penanganan sumber persoalan tetap menjadi pekerjaan besar. Wali Kota Pontianak sebelumnya telah menetapkan status darurat karhutla untuk memperkuat penanganan dan koordinasi lintas sektor.

Pemkot Pontianak berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, pemerintah pusat, Forkopimda hingga pihak swasta.

“Ini kita lakukan untuk memperkuat koordinasi penanganan bersama, baik dalam pencegahan kebakaran maupun penanganan dampak kesehatan masyarakat,” kata Edi.

Ketika Kabut Asap Menjadi Pengingat

Kabut asap pada akhirnya bukan hanya persoalan tentang langit yang berubah kelabu. Ia menyentuh banyak sisi kehidupan. Sekolah harus menyesuaikan diri. Orang tua harus mengawasi aktivitas anak. Tenaga kesehatan harus bersiap. Pemerintah harus memperkuat koordinasi. Dan masyarakat kembali diingatkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti ketika api padam. Sebab, setelah bara mengecil, persoalan bisa berpindah ke udara yang dihirup setiap hari.

Di Pontianak, keputusan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka menjadi salah satu bentuk kehati-hatian. Anak-anak memang kehilangan suasana belajar di ruang kelas untuk sementara. Tetapi di balik layar pembelajaran daring itu, ada pesan yang jauh lebih penting: pendidikan bisa menunggu sejenak, tetapi kesehatan anak tidak boleh dipertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *