LandakTITIK 14 POTENSI

Romo, Benih, dan Harapan dari Hulu Landak

×

Romo, Benih, dan Harapan dari Hulu Landak

Sebarkan artikel ini

Titik14.com | LANDAK – Di hamparan sawah Dusun Berinang Lesung, Desa Ringo Lojok, Kecamatan Banyuke Hulu, Jumat (25/09/2026), bulir-bulir padi Inpari 32 yang menguning bukan sekadar hasil panen.

Di baliknya tersimpan cerita tentang kesabaran mengubah cara pandang petani, ketekunan mendampingi masyarakat, dan harapan membangun kemandirian pangan dari wilayah hulu Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Pagi itu, Bupati Landak Karolin Margret Natasa hadir menyaksikan panen perdana benih padi yang dikembangkan kelompok tani penangkar setempat. Namun perhatian tidak hanya tertuju pada hasil panen.

Sosok Romo Arsensius yang selama ini mendampingi petani menjadi salah satu figur yang mendapat apresiasi khusus.

Karolin menyebut tantangan terbesar dalam pertanian bukan semata soal lahan, pupuk, atau alat produksi. Yang lebih sulit adalah mengubah pola pikir.

“Yang paling sulit dalam pertanian itu mindset. Mengubah pikiran dan tata cara yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun yang dirasa sudah benar, padahal belum tentu benar,” ujarnya.

Perubahan itulah yang perlahan tumbuh di Ringo Lojok. Melalui pendampingan yang konsisten, para petani mulai mengenal pentingnya penggunaan benih unggul dan teknik budidaya yang lebih terukur.

Hasilnya kini mulai terlihat melalui keberhasilan kelompok tani menghasilkan benih sendiri.

Bagi petani, menjadi penangkar benih bukan pekerjaan sederhana. Benih harus dijaga kemurniannya, dirawat dengan standar tertentu, dan membutuhkan ketelitian lebih dibanding produksi padi konsumsi biasa.

Namun usaha tersebut diyakini menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Karolin mengingatkan bahwa kualitas benih menjadi salah satu penentu utama hasil panen.

Karena itu, ia mendorong petani memanfaatkan benih unggul yang telah dihasilkan kelompok penangkar lokal.

Di tengah keterbatasan infrastruktur dan luasnya wilayah pedalaman, keberadaan tokoh-tokoh penggerak di tingkat lokal dinilai sangat penting. Mereka menjadi jembatan antara program pemerintah dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Menurut Karolin, pembangunan pertanian tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan dari pusat pemerintahan. Dibutuhkan orang-orang yang bersedia hadir, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat dari hari ke hari.

Panen perdana Inpari 32 di Banyuke Hulu akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni.

Ia menjadi simbol bahwa perubahan dapat tumbuh dari sawah-sawah kecil di pedalaman, ketika pengetahuan, pendampingan, dan kemauan untuk belajar berjalan beriringan.

Di tengah tantangan pertanian yang semakin kompleks, harapan itu kini tumbuh bersama benih-benih unggul yang mulai berkembang di hulu Landak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *